Kalau beberapa tahun lalu tantangan terbesar dalam membangun personal branding adalah berani membuat konten, sekarang tantangannya sedikit berbeda. Saat ini hampir semua orang bisa membuat konten dengan bantuan Artificial Intelligence (AI).
Butuh ide caption? Tinggal minta AI.
Butuh ide konten LinkedIn? Tinggal minta AI.
Butuh draft artikel atau script video? AI juga bisa membantu.
Sekilas, kondisi ini terlihat menguntungkan. Semakin banyak orang memiliki kesempatan untuk membagikan ide dan menunjukkan kompetensinya kepada publik. Namun muncul satu pertanyaan menarik:
Kalau semua orang menggunakan tools yang sama, apa yang membuat personal branding seseorang tetap terlihat autentik dan manusiawi?
Media Buffet sebagai 360 communications agency yang cukup sering mendampingi brand dalam membangun reputasi melihat bahwa tantangan terbesar saat ini bukan lagi soal membuat konten. Tantangannya adalah membangun kepercayaan. Karena pada akhirnya, audiens tidak hanya memperhatikan apa yang disampaikan, tetapi juga alasan mengapa pesan tersebut layak dipercaya.
AI Bisa Membantu Menulis, Tetapi Tidak Bisa Menggantikan Pengalaman
Tidak bisa dipungkiri bahwa AI telah membantu banyak pekerjaan komunikasi menjadi lebih efisien. Mulai dari mencari ide, menyusun struktur tulisan, hingga membantu proses brainstorming, semuanya bisa dilakukan lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu.
Eits, tapi jangan salah.
AI memang bisa membantu menyusun kata-kata. Namun AI tidak bisa menggantikan pengalaman yang dimiliki oleh seseorang.
Dalam praktik Public Relations, insight yang paling menarik justru lahir dari pengalaman nyata. Baik saat menghadapi krisis, membangun hubungan dengan media, maupun mengelola berbagai dinamika komunikasi dengan beragam stakeholders.
Pengalaman tersebut menghasilkan perspektif yang unik, dan hal itulah yang sering kali menjadi pembeda utama dalam personal branding. Karena pada akhirnya, orang tidak hanya tertarik pada apa yang diketahui seseorang. Mereka juga ingin tahu bagaimana pengalaman tersebut membentuk cara berpikir.
Ketika Semua Orang Bisa Membuat Konten, Konsistensi Menjadi Pembeda
Salah satu kesalahpahaman yang cukup sering muncul adalah menganggap personal branding sebagai aktivitas yang bergantung pada konten-konten viral. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Banyak profesional yang saat ini dikenal sebagai ahli di bidangnya bukan karena satu unggahan yang meledak. Sebaliknya, mereka secara konsisten membagikan pemikiran, pengalaman, dan sudut pandang dalam jangka waktu yang panjang.
Prinsip yang sama juga berlaku dalam dunia Public Relations. Reputasi tidak dibangun dalam satu hari. Publik membutuhkan waktu untuk mengenal, memahami, dan mempercayai sebuah brand maupun individu.
Karena itu, dibanding terlalu fokus mengejar viral, akan lebih efektif jika personal branding dibangun melalui pesan yang konsisten dan relevan dengan bidang yang ingin ditonjolkan.
Cerita Pribadi Masih Menjadi Aset yang Sulit Ditiru
Pernah membaca sebuah konten yang rapi, tetapi terasa kurang berkesan? Bisa jadi masalahnya bukan pada kualitas tulisannya, melainkan karena tidak ada unsur pengalaman di dalamnya.
Saat ini, banyak konten dapat dibuat dengan bantuan AI. Namun cerita mengenai proses belajar, tantangan pekerjaan, kegagalan, atau pelajaran dari sebuah pengalaman masih menjadi sesuatu yang sulit direplikasi.
Manusia pada dasarnya lebih mudah terhubung dengan cerita dibandingkan teori. Karena itu, storytelling tetap menjadi elemen penting dalam komunikasi, baik untuk brand maupun individu. Menariknya, cerita yang paling sederhana justru sering kali terasa paling relevan bagi audiens. Bukan karena setiap cerita harus luar biasa, tetapi karena cerita tersebut terasa nyata.
Dalam banyak diskusi mengenai personal branding, pembahasan sering kali berfokus pada jumlah followers, likes, atau engagement. Padahal metrik tersebut hanyalah sebagian kecil dari gambaran yang lebih besar.
Dari perspektif komunikasi, tujuan utama personal branding adalah membangun persepsi yang tepat dan menciptakan kepercayaan. Audiens perlu memahami siapa diri seseorang, bidang apa yang dikuasai, serta nilai apa yang ingin dibawa melalui setiap komunikasi yang dilakukan.
Karena itu, personal branding yang kuat tidak selalu identik dengan audiens terbesar. Namun mampu membuat orang mengingat kompetensi, pengalaman, dan perspektif yang dimiliki seseorang.
Pada akhirnya, AI memang membuat proses pembuatan konten menjadi lebih mudah. Namun personal branding tidak pernah hanya soal membuat konten.
Yang membuat personal branding tetap terlihat manusia bukan seberapa canggih tools yang digunakan, melainkan pengalaman, sudut pandang, dan cerita yang ada di balik setiap pesan yang disampaikan.
Jadi, jika saat ini AI sudah bisa membantu membuat hampir semua jenis konten, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi “apa yang harus diposting?”, melainkan “pengalaman apa yang hanya bisa diceritakan agar bisa menjadi insight untuk orang lain?”
Penulis: Farah Dina


