blanding

3 Alasan Brand Melakukan Blanding

Belakangan ini, mulai terjadi tren dimana sejumlah brand melakukan rebranding dengan menyederhanakan logo mereka. Fenomena ini disebut sebagai blanding, alih-alih berlomba untuk menjadi lebih menonjol, berbagai brand mengubah logo mereka menjadi lebih simple dan minimalis sehingga bisa lebih berbaur dengan para brand lain di industrinya.

Salah satu contoh blanding yang paling jelas dapat kita lihat di industri fashion. Merek-merek high end seperti Yves Saint Laurent, Balenciaga, Burberry, dan Balmain mengganti logo lama mereka yang khas dan unik, dengan font berjenis “sans-serif” yang tidak jauh berbeda dengan merek high end fashion lainnya. Bahkan Yves Saint Laurent juga memperpendek nama brand mereka menjadi Saint Laurent saat melakukan proses blanding ini.

(source: businessoffashion.com)

Di tengah ramainya brand yang melakukan blanding terhadap logonya, fenomena ini juga menuai berbagai kritikan. Mereka yang kontra dengan hal ini, rata-rata menyatakan bahwa brand akan kehilangan identitas dan ciri khas yang telah dibangun selama puluhan tahun. Kritik tersebut memiliki dasar yang cukup kuat, karena salah satu aspek paling penting yang harus dimiliki sebuah brand adalah diferensiasi yang biasanya akan ditekankan dalam proses branding.

Lalu, apa alasan berbagai brand besar ini melakukan blanding, meskipun proses tersebut berpotensi menghilangkan brand identity dari logo mereka?

Logo yang simple lebih cocok untuk ditampilkan di smartphone

Hasil survei yang dilakukan oleh Hootsuite menunjukan jumlah pengguna smartphone di dunia kini mencapai 5,22 miliar orang dan jumlah pengguna internet di dunia terdapat 4,66 miliar jiwa. Sehingga tidak dapat dipungkiri jika smartphone dan internet kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Smartphone digunakan masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan, mulai dari mendapatkan dan memberi informasi, mencari hiburan, hingga melakukan transaksi jual beli. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan utama brand memutuskan melakukan blanding. Bukan hanya memudahkan pengguna untuk bisa melihat tampilan logo dengan lebih jelas, tetapi juga membuat kualitas ukuran gambar menjadi sesuai dengan ukuran masing-masing smartphone.

Logo yang simple terlihat lebih modern dan serbaguna

Ketika logo sebuah brand memiliki detail dan skema warna yang rumit, maka logo tersebut menjadi kurang serbaguna dan seringkali juga menurunkan efektivitasnya.

Secara digital, mungkin logo tersebut terlihat bagus, namun hasilnya akan kurang maksimal jika dicetak, di bordir, atau diperkecil. Selain itu, logo yang disederhanakan akan lebih selaras dengan tren desain modern yang mengedepankan minimalism.

Lebih mudah untuk menjaga konsistensi logo di berbagai platform

Kini, hampir tidak ada brand yang tidak eksis di media sosial seperti Instagram, Twitter, dan Tiktok. Banyaknya platform media sosial yang harus dikelola, membuat brand harus berusaha menampilkan visual yang sesuai dengan format dari masing-masing platformnya.

Gaya visual yang cocok untuk Instagram belum tentu akan cocok jika digunakan di platform lain seperti Twitter atau Facebook. Logo dan gaya visual yang rumit akan membuat proses penyesuaian ini lebih sulit dan kurang efektif, sehingga kurang kompatibel untuk digunakan di berbagai platform digital.

Nah, itu dia beberapa alasan mengapa brand memutuskan untuk melakukan blanding. Memang menyederhanakan logo adalah cara termudah untuk mengakomodasi berbagai platform, namun jika eksekusinya kurang baik, justru brand akan berpotensi kehilangan brand identity mereka yang akhirnya akan membuat pelanggan kesulitan untuk membedakan antara suatu brand dengan kompetitornya.

Written by Cinthya Namira & Savira Chesaria, PR Consultant Intern at Media Buffet

References:

Share with
Popular Post
Archives
en_US